Menu

Red Star OS, Sistem Operasi Korea Utara

January 19, 2015 - Software

Korea Utara selama ini dikenal sebagai salah satu negara (mungkin juga satu-satunya) di dunia yang mengisolasi diri dari lingkungan dunia luar. Meski demikian, negara yang terletak di Semenanjung Korea dan bertetangga dengan Korea Selatan tersebut tidak serta-merta menutup diri dari perkembangan yang terjadi di lingkungan global.

Negara yang dipimpin oleh Kim Jong-un ini juga mengembangkan berbagai aplikasi teknologi yang bisa dibilang mencontek milik Barat, salah satunya sistem operasi Red Star OS, yang merupakan sistem operasi berbasis Linux. Dikembangkan sejak tahun 2002 silam di lembaga bernama Korea Computer Center di Pyongyang, sistem operasi ini telah mencapai versi 3.0 hingga tahun 2010 dan hanya tersedia dalam bahasa Korea yang disesuaikan dengan terminologi dan ejaan yang berlaku di Korea Utara.

RedStar 3.0-4

Secara tampilan, desain sistem operasi ini sangat mirip denga OS buatan Apple, Mac OS X. Meski belum ditemukan alasan yang jelas mengenai kemiripan desain ini, namun ada informasi yang menyebutkan bahwa Kim Jong-un menggunakan komputer iMac di kantornya. Karena menyukai desain tersebut, ia meminta agar Red Star versi terbaru didesain mirip dengan OS buatan Apple tersebut. Sebelumnya, Red Star disebut memiliki desain mirip dengan Windows buatan Microsoft.

Selain tampilan yang mirip Mac, OS ini dilengkapi peramban khusus bernama Naenara, yang dalam bahasa Korea berarti “Negaraku”. Peramban tersebut adalah hasil modifikasi dari Mozilla Firefox, yang berfungsi untuk menjelajahi portal Naenara dalam jaringan intranet Kwangmyong. Red Star juga dilengkapi dengan editor teks, aplikasi email, pemutar musik, dan video serta games. Di dalam paket OS ini juga disematkan Wine, sebuah alat yang membuat aplikasi Windows bisa digunakan di Linux.

Meski merupakan sistem operasi open source (seperti layaknya OS Linux lainnya) namun pemerintah Korea Utara tetap memberlakukan keamanan tingkat tinggi pada sistem operasi ini, salah satunya dengan memberikan watermark pada file yang ada di flash drive. Langkah ini dilakukan guna melacak kemungkinan file dari flash drive tersebut digunakan untuk hal-hal yang dianggap mengancam keamanan.

Di samping itu, Red Star OS juga tidak mengenal modifikasi terhadap sistem. Pasalnya, tidak hanya pengamanan ekstra di file sistem kunci, namun sistem operasi ini dapat segera melakukan reboot pada  PC jika diketahui ada perubahan di file-file. Red Star OS juga dibekali dengan teknologi asli buatan Korea Utara, termasuk software antivirus dan peramban internet yang diarahkan ke server internal. Teknologi enkripsi pun dikembangkan secara khusus.

Sistem operasi Red Star ini memang dibuat untuk kepentingan mata-mata, bukan sekadar alternatif Windows. Pihak pemerintah setempat juga mengatakan bahwa sistem operasi tersebut dibuat untuk menjaga keamanan transaksi data di negara tersebut. Tetapi, karena tidak percaya begitu saja, para peneliti pernah membedah untuk mengetahui apa isi sistem operasi ini.

Florian Grunow dan Niklaus Schiess, dua peneliti Jerman dari perusahaan keamanan IT bernama ERNW berhasil mengunduh perangkat lunak dari situs yang dilakukan di luar wilayah Korea Utara. Diketahui, sistem operasi Red Star dibuat berdasarkan salah satu versi dari Linux yang bernama Fedora. Kedua peneliti berpendapat bahwa Korea Utara sangat cerdas dalam memilih kode-kode untuk dapat menghindar dari berbagai badan intelijen.

Menurut mereka, OS Red Star ini anti-rusak, bahkan komputer akan menampilkan pesan error dan melakukan reboot dengan sendirinya bila pengguna mencoba membuat perubahan kepada fungsi dasar OS, seperti menonaktifkan pemeriksa antivirus atau firewall. Red Star juga bagaikan OS “mata-mata” virtual yang memantau dan menindak pertukaran tulisan, musik, atau film yang dilakukan secara diam-diam di Korea Utara.