Menu

Inilah Berbagai Keunikan Indramayu Sebagai Kota Budaya

October 21, 2016 - Software

Sebagian besar masyarakat Indonesia pasti sudah mengetahui di mana letak Kota Indramayu. Kabupaten yang berada di Provinsi Jawa Barat ini memang tak asing lagi di telinga masyarakat, terutama bagi mereka yang kerap melewati jalur Pantura (Pantai Utara Jawa). Namun seperti apa sebenarnya Kota Indramayu? Apa saja keunikan yang dimiliki oleh Indramayu hingga kota satu ini dijuluki sebagai Kota Budaya?

Kabupaten Indramayu terdiri dari 33 kecamatan yang terbagi menjadi 315 desa dan kelurahan. Pemilihan nama Indramayu sendiri ternyata memang ada sejarahnya. Nama Indramayu berasal dari kata ‘Darma Ayu’, yaitu seorang wanita cantik bernama Nyi Endang Darma. Wanita ini juga adalah orang yang berjasa membangun pedukuhan. Kemudian nama tersebut diubah menjadi ‘Indramayu’ yang kemudian sampai sekarang kita kenal sebagai Kota Indramayu.

Selain dijuluki sebagai Kota Budaya, kota yang sudah berusia sekitar 489 tahun ini juga dijuluki sebagai Kota Mangga. Tak lain karena setiap halaman rumah yang ada di Indramayu memiliki pohon mangga dan rasa buah mangga Indramayu terkenal memiliki ciri khas tersendiri dibanding kota lain. Bahkan mangga juga kini menjadi ikon Kota Indramayu loh!

Tak hanya mangganya saja yang terkenal, Indramayu juga terkenal masih menjunjung tinggi budaya peninggalan nenek moyang mereka. Berbeda dari Jawa Barat yang berkomunikasi dengan Bahasa Sunda, orang-orang Indramayu berkomunikasi dengan Bahasa Dermayon yang merupakan campuran antara Bahasa Jawa dengan Sunda, namun lebih kental dengan Bahasa Jawa.

Di Indramayu terdapat sejumlah tradisi yang masih dilestarikan hingga kini. Di antaranya ada tradisi Jaringan. Jaringan adalah upacara yang biasa dilakukan kalangan remaja untuk mencari pasangan hidup pada malam bulan purnama. Kegiatan unik ini dilangsungkan di Desa Parean, Kecamatan Kandang Haur. Dalam upacara ini para pria memakai kain sarung, sedangkan wanita menggunakan kain rajutan untuk menarik perhatian lelaki.

Tradisi berikutnya yang unik adalah Mapag Tamba atau upacara untuk mengusir hama saat bertani. Dalam kegiatan ini para petani membawa air suci yang telah didoakan ke dalam bungbung bambu dan menyiramkannya ke perbatasan sawah yang ada di seluruh desa.

Kemudian ada upacara Ngarot yang merupakan kegiatan lanjutan dari Mapag Tamba. Tradisi yang sudah ada sejak abad 16 ini dilakukan oleh masyarakat desa di Kecamatan Lelea setiap hari Rabu, minggu keempat bulan November demi memperoleh hasil pertanian yang melimpah.

Selain itu ada juga pagelaran seni wayang kulit yang dinamai Mapag Sri. Upacara ini diselenggarakan sebagai wujud rasa syukur masyarakat terhadap Tuhan atas datangnya masa panen. Selanjutnya adalah tradisi Ngunjung yang merupakan upacara syukuran yang biasa dilaksanakan di makam-makam keramat pada bulan Syuro dan Mulud.

Yang terakhir adalah upacara Sedekah Bumi yang dilaksanakan para petani ketika hendak menggarap sawah. Biasanya digelar saat awal musim hujan, antara bulan Oktober-Desember dan diisi kegiatan doa bersama serta upacara adat.

Kesenian yang ada di Indramayu pun tak kalah banyaknya. Saat berada di Indramayu, pastikan untuk tak melewatkan pagelaran seni seperti Genjring Akrobat, Kuda Lumping, Tarling, Sintren atau Lais, Tari Topeng Dermayon, dan Wayang Golek Cepak.